Notification

×

ini-klik.id


 


 

Dari Dapur Hotel Menuju Green Hotel

Kamis | 6.8.26 | Last Updated 2026-08-06T01:14:11Z
    Share

 


Hotel Unhas Convention Menyongsong Era Baru Pengelolaan Sampah Nasional


Oleh: Mashud Azikin


Revolusi sering kali tidak dimulai dari ruang sidang atau mimbar kebijakan, melainkan lahir dari tempat paling sibuk yang kerap luput dari perhatian: dapur.


Setiap hari, sisa sayuran, kulit buah, dan limbah makanan diproduksi dalam jumlah besar di dapur. Berjalan bertahun-tahun, limbah tersebut dianggap selesai begitu diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Cara pandang konvensional ini kini tak lagi relevan.


Sejak 1 Agustus 2026, Indonesia resmi memasuki babak baru pengelolaan sampah. Penghentian praktik open dumping di seluruh TPA menjadi penanda bahwa negara tidak lagi mentoleransi pola "angkut-buang-timbun". Amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang sekian lama belum berjalan optimal, kini ditegaskan kembali. Sejalan dengan itu, target Jakstranas melalui Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 turut diperkuat: pengurangan sampah harus dimulai dari sumbernya.


Dalam konteks itulah, kunjungan kami ke Hotel Unhas Convention memiliki makna yang mendalam.


Sebagai Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar dan pegiat eco-enzyme, kami berdialog dengan Manajer Housekeeping, Bapak Yovie Abdul Gofar, beserta jajaran staf housekeeping dan tim dapur. Diskusi kami tidak berkutat pada cara membuang sampah dengan cepat, melainkan bagaimana meniadakan konsep "sampah" itu sendiri melalui sistem yang berkelanjutan.


Pertemuan tersebut menghasilkan satu kesepahaman: hotel masa depan harus mampu mengolah limbahnya secara mandiri.


Kami menyusun rencana pembangunan Biodigester sebagai fasilitas pengolah limbah organik menjadi biogas dan pupuk organik cair. Selain itu, dirancang pula penerapan Teba Modern—sistem pengolahan sampah organik berbasis dekomposisi alami yang sederhana, hemat biaya, dan aplikatif untuk industri perhotelan. Kedua pendekatan ini akan memangkas volume sampah yang dibuang ke luar hotel secara signifikan sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah.


Namun, teknologi hanyalah sarana. Perubahan sesungguhnya bertumpu pada manusia.


Oleh karena itu, kami juga menggelar lokakarya pembuatan eco-enzyme bagi para petugas housekeeping dan dapur. Melalui pelatihan ini, mereka mempraktikkan langsung pengolahan kulit buah, sisa sayuran, gula, dan air menjadi cairan multifungsi yang berguna sebagai pembersih alami, pengurai bau, pengolah limbah, hingga penyubur tanaman.


Pelatihan sederhana ini pada hakikatnya sedang membangun budaya baru. Ketika setiap pekerja memahami nilai ekologis dan ekonomis dari limbah organik, mereka tidak lagi sekadar menjalankan tugas operasional, melainkan menjadi bagian dari gerakan menjaga bumi.


Green Hotel, pada akhirnya, bukan sekadar label yang terpajang di dinding lobi. Green Hotel adalah komitmen yang bernapas dalam setiap aktivitas operasional—dari dapur, area housekeeping, taman, hingga pengelolaan setiap kilogram limbah harian.


Inisiatif Hotel Unhas Convention ini beriringan dengan agenda besar Indonesia menuju Net Zero Emission 2060. Pengelolaan sampah organik dari sumbernya dapat menekan emisi gas metana dari TPA—salah satu gas rumah kaca dengan efek kerusakan jauh lebih tinggi ketimbang karbon dioksida. Dengan demikian, mengolah sampah organik bukan hanya urusan kebersihan, melainkan bagian dari strategi global menghadapi krisis iklim.


Makassar membutuhkan lebih banyak institusi yang berani mengambil langkah pionir seperti ini. Kota yang berkelanjutan tidak dibangun sebatas oleh taman yang indah atau gedung yang megah, melainkan oleh institusi yang bersedia meng ubah cara kerjanya demi kelestarian lingkungan.


Beberapa tahun ke depan, ketika orang membicarakan Green Hotel di Makassar, ingatan mereka tak hanya tertuju pada kenyamanan bangunan atau keramahan pelayanan. Mereka akan mengingat sebuah hotel yang memulai perubahan besar dari dapurnya—tempat limbah berhenti menjadi masalah dan mulai menjadi sumber kehidupan.


Di sanalah masa depan kota yang berkelanjutan sedang dimasak.

 

 

 

 

×
Berita Terbaru Update