* Catatan humaniora tentang perut,
kekuasaan, sampah, dan keputusan-keputusan yang lahir dari keadaan yang salah.
Oleh: Mashud
Azikin
Ada sebuah pepatah Tiongkok yang terdengar
sederhana—bahkan seperti nasihat seorang ibu kepada anaknya yang belum sarapan:
“Jangan buat keputusan seumur
hidup saat Anda sedang lapar.”
Saya kira orang Tiongkok tahu sesuatu yang sering kita
lupakan: pikiran manusia kerap bertekuk lutut pada isi perutnya.
Orang lapar bisa menganggap warung sebelah sebagai
restoran terbaik di dunia. Orang haus bisa membeli air mineral dengan harga
tiga kali lipat. Orang yang sedang marah mengira membalas pesan WhatsApp adalah
keputusan strategis. Dan pejabat yang terdesak popularitas mengira proyek megah
pasti sama dengan kebijakan yang baik.
Padahal belum tentu.
Perut yang kosong mempunyai politiknya sendiri. Ia
membuat kita tergesa-gesa, memendekkan kesabaran, dan mengubah pertimbangan
menjadi sekadar pemenuhan kebutuhan. Dalam keadaan lapar, manusia tidak sedang
mencari yang terbaik—ia hanya mencari yang segera.
Di situlah pepatah ini bertransformasi dari sekadar
nasihat makan menjadi refleksi mendalam: ia berbicara tentang cara manusia
mengambil keputusan saat berada di bawah tekanan.
Kita hidup di zaman yang gemar mengambil keputusan
dengan perut lapar. Lapar uang, lapar jabatan, lapar pengakuan, lapar
pembangunan, lapar investasi, lapar pujian—bahkan lapar terlihat berhasil.
Akibatnya, banyak keputusan dibuat bukan karena kita menemukan jalan terbaik,
melainkan karena kita sudah tidak tahan dengan keadaan hari ini.
Kota ingin cepat bersih, lalu sampah dipindahkan.
Perusahaan ingin cepat untung, lalu alam dieksploitasi. Pemerintah ingin cepat
terlihat bekerja, lalu proyek dibangun sebelum akar masalah dipahami.
Masyarakat ingin serbapraktis, lalu barang sekali pakai dianggap berkah
peradaban.
Setelah semuanya selesai, barulah kita bertanya: mengapa masalahnya kembali lagi?
Sebab kita hanya mengobati rasa lapar, bukan menyembuhkan penyakitnya.
Sampah adalah cermin yang paling jujur.
Selama puluhan tahun kita memperlakukan sampah seperti
asing yang tak ingin kita kenal. Begitu keluar dari pintu rumah, ia segera
diserahkan kepada petugas: “Ini
urusan pemerintah.”
Pemerintah mengangkutnya: “Ini urusan TPA.” TPA menampungnya, hingga suatu hari
TPA berkata: cukup.
Tumpukan sampah menjulang seperti monumen dari gaya
hidup kita sendiri. Ironisnya, ketika gunungan itu membusuk dan mengeluarkan
bau, kita marah kepada pemerintah. Ketika sungai tersumbat, kita menyalahkan
hujan. Ketika banjir datang, kita menyalahkan drainase. Jarang kita bertanya
pada diri sendiri: “Apa yang
sebenarnya saya masukkan ke dalam kantong sampah pagi tadi?”
Padahal, keputusan ekologis terbesar sebuah kota tidak
selalu dibuat di kantor wali kota. Ia dibuat di dapur, di meja makan, di
warung, dan di pasar. Ia ditentukan oleh tangan seorang ibu ketika memisahkan
kulit buah dari plastik, tangan seorang anak ketika memilih tempat sampah yang
benar, serta rumah-rumah yang mungkin tidak pernah masuk televisi.
Karena itu, memilah sampah bukan sekadar pekerjaan
teknis belaka. Ia adalah latihan etika.
Ketika memilah sampah organik dan anorganik, kita
sedang menegaskan bahwa tidak semua benda bisa diperlakukan sama. Kulit pisang
bukan plastik, sisa makanan bukan residu, dan botol bekas bukan sekadar sampah.
Mereka memiliki perjalanan yang berbeda.
Sampah organik dapat kembali menjadi kompos, eco-enzyme, pakan, energi, atau
bagian dari siklus biologis. Material anorganik tertentu dapat kembali menjadi
bahan baku. Inilah logika ekonomi sirkular: apa yang kita sebut sampah hari ini
mungkin adalah sumber daya yang gagal kita kenali.
Namun untuk melihat itu, kita harus berhenti 'lapar'.
Bukan lapar dalam arti fisik, melainkan lapar untuk segera membuang, segera
selesai, segera bersih, dan segera praktis. Kota yang beradab bukanlah kota
yang paling cepat membuang sampah, melainkan kota yang paling bijak menentukan
ke mana sesuatu harus pergi setelah selesai digunakan.
Ada ironi lain. Kita sering mengajarkan anak-anak untuk
menjaga lingkungan, tetapi orang dewasa memberi teladan yang bertolak belakang.
Kita berpesan, “Jangan membuang sampah sembarangan,” namun di dalam
mobil, orang tua membuka kaca dan melempar bungkus makanan. Kita mengajari, “Hemat air,” tetapi membiarkan
keran bocor. Kita berbicara tentang perubahan iklim sambil menjadikan konsumsi
berlebihan sebagai simbol keberhasilan.
Anak-anak akhirnya mempelajari satu hal yang lebih
meresap daripada semua slogan: bahwa manusia dewasa sering mengatakan satu hal
dan melakukan hal lain.
Pendidikan lingkungan bukan hanya soal menambah
pengetahuan, melainkan mengubah kebiasaan. Dan perubahan kebiasaan selalu
membutuhkan satu hal yang tidak populer: kesediaan menunda kenikmatan (delayed gratification).
Pepatah Tiongkok itu mengajarkan kita untuk menunda
keputusan dan kesenangan sesaat demi sesuatu yang lebih baik dalam jangka
panjang. Dalam urusan lingkungan, prinsip ini krusial.
Kita mungkin ingin membuang semua sampah dalam satu
kantong karena praktis, tetapi kenyamanan lima menit itu menjadi persoalan
lingkungan selama puluhan tahun. Kita mungkin ingin menggunakan plastik sekali
pakai karena murah, tetapi murah di kasir tidak berarti murah bagi bumi. Kita
mungkin ingin membakar sampah karena cepat menghilangkannya dari pandangan,
tetapi hilang dari mata bukan berarti hilang dari ekosistem.
Sampah yang dibakar berubah menjadi emisi, yang
ditimbun menjadi beban, dan yang dibuang ke sungai menjadi bencana bagi orang
lain. Apa yang kita sebut selesai sering kali hanya berpindah tempat.
Di sinilah politik lingkungan menjadi krusial.
Politik sering dipahami sempit sebagai perebutan
kekuasaan. Padahal dalam pengertian yang lebih luas, politik adalah bagaimana
kita menentukan siapa mendapat apa, siapa menanggung akibatnya, dan siapa
membayar biayanya.
Ketika seseorang membuang sampah sembarangan, ia
sebenarnya sedang membuat keputusan politik: menghemat tenaganya sendiri dengan
memindahkan beban kepada masyarakat. Ketika sebuah industri membuang limbah
tanpa pengolahan layak, ia memindahkan biaya produksi kepada lingkungan. Ketika
sebuah kota hanya membangun TPA tanpa membenahi perilaku di hulu, kota itu
sedang melempar persoalan kepada generasi berikutnya.
Itulah sebabnya sampah bukan sekadar persoalan
kebersihan; sampah adalah persoalan keadilan. Siapa yang menikmati barang? Siapa
yang menghasilkan sampah? Siapa yang mengangkutnya? Siapa yang mengolahnya?
Siapa yang mencium baunya? Dan siapa yang mewarisi akibatnya?
Kita juga harus belajar bahwa tidak semua keputusan
harus dibuat hari ini. Ada keputusan yang memang darurat, tetapi ada keputusan
yang sebaiknya diberi kesempatan untuk mengendap—seperti kopi yang baru
diseduh, jangan langsung diminum ketika masih mendidih.
Begitu pula dalam hidup. Jangan menikah ketika sedang
mabuk kesepian. Jangan bercerai ketika sedang marah. Jangan mengundurkan diri
ketika sedang tersinggung. Jangan membeli sesuatu hanya karena ingin terlihat
berhasil. Dan jika bisa, jangan membuat kebijakan publik hanya karena sedang
dikejar tepuk tangan.
Tepuk tangan cepat datang dan cepat pergi, namun dampak
kebijakan bisa tertinggal hingga satu generasi.
Dalam urusan lingkungan, kita membutuhkan pertobatan
ekologis. Bukan pertobatan dalam arti merasa bersalah semata, melainkan
perubahan arah:
·
Dari membuang menjadi mengelola.
·
Dari mengambil menjadi merawat.
·
Dari linear menjadi sirkular.
·
Dari “setelah saya buang, bukan urusan saya” menjadi “apa yang terjadi setelah saya
selesai menggunakan?”
Pertanyaan terakhir itu sederhana, tetapi ia mampu
mengubah peradaban. Ukuran kemajuan manusia bukan hanya dari berapa banyak yang
mampu diproduksinya, melainkan seberapa bertanggung jawab ia terhadap apa yang
ditinggalkannya.
Mungkin itulah sebabnya pepatah Tiongkok tadi layak
ditempel bukan hanya di dapur, melainkan juga di ruang rapat pemerintah, kantor
perusahaan, ruang sidang parlemen, hingga di depan cermin kamar tidur.
·
Jangan membuat keputusan seumur hidup ketika
sedang lapar.
·
Jangan membuat keputusan tentang hutan ketika
sedang lapar kayu.
·
Jangan membuat keputusan tentang laut ketika
sedang lapar ikan.
·
Jangan membuat keputusan tentang tanah ketika
sedang lapar beton.
·
Jangan membuat keputusan tentang kota ketika
sedang lapar proyek.
·
Dan jangan membuat keputusan tentang masa depan
anak-anak ketika kita sedang lapar keuntungan hari ini.
Generasi mendatang tidak bisa hadir untuk membatalkan
keputusan kita. Mereka hanya bisa menerima akibatnya.
Bumi mungkin tidak membutuhkan manusia yang selalu
punya semua jawaban. Bumi hanya membutuhkan manusia yang mau berhenti sejenak
sebelum mengambil keputusan.
Berhenti. Tarik napas. Lihat kembali apa yang hendak
kita buang, apa yang hendak kita beli, apa yang hendak kita bangun, dan siapa
yang akan menerima akibatnya.
Lalu bertanyalah: “Apakah ini benar-benar keputusan terbaik, atau saya
hanya sedang lapar?”
Sebab barangkali, banyak kerusakan ekologis di dunia
ini bermula dari keputusan yang sebenarnya tidak berniat jahat—hanya terlalu
tergesa-gesa. Dan manusia yang tergesa-gesa sering lupa bahwa bumi tidak pernah
mengenal tombol undo.
Maka sebelum mengambil keputusan besar, barangkali kita
perlu makan dulu. Bukan hanya supaya perut kenyang, melainkan agar akal punya
kesempatan untuk pulang. Dan ketika akal sudah pulang, kita akan sadar: sampah
yang kita pilah hari ini bukan sekadar sampah yang kita kelola, melainkan masa
depan yang sedang kita putuskan.



