Notification

×

ini-klik.id


 


 

Merawat Rahim Nusantara: Menagih Kedaulatan Ekologis di Usia 81 Tahun Kemerdekaan

Rabu | 19.8.26 | Last Updated 2026-08-18T21:40:26Z
    Share


Oleh: Mashud Azikin (Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar)


Ada yang terasa janggal setiap kali Agustus tiba.


Bendera merah putih dikibarkan, jalanan dihiasi umbul-umbul, dan lomba-lomba rakyat digelar meriah. Lagu perjuangan membahana dari pengeras suara. Kita merayakan kemerdekaan dengan gempita, namun ada satu pertanyaan yang jarang diundang ke panggung perayaan: merdeka dari apa, dan merdeka untuk siapa?


Delapan puluh satu tahun Proklamasi, kita memang tidak lagi melihat serdadu kolonial dengan senapan. Secara politik, kita telah merdeka. Namun, bagaimana dengan kedaulatan bumi tempat kita berpijak?


Sebuah bangsa mungkin telah terbebas dari penjajahan asing, tetapi belum tentu merdeka dari cara berpikir eksploitatif yang memperlakukan tanah, hutan, laut, sungai, dan udara sekadar sebagai komoditas. Kita mengusir penjajah dari halaman rumah, tetapi tanpa disadari, kita masih mewarisi cara pandang kolonial dalam mengelola ruang hidup.


Merdeka, Tetapi Ruang Hidup Dikontrakkan


Kolonialisme masa lalu datang membawa kapal perang. Hari ini, kolonialisme ekologis hadir secara halus lewat dokumen investasi, izin konsesi, dan narasi "pembangunan strategis". Bahasanya modern dan teknokratis, tetapi dampaknya purba:


  • Hutan ditebang dan gunung dikeruk.
  • Sungai tercemar dan pesisir direklamasi.
  • Pulau-pulau kecil kehilangan benteng alaminya.
  • Masyarakat adat diasingkan di tanah kelahirannya sendiri oleh batas konsesi.


Atas nama Produk Domestik Bruto (PDB), pohon direduksi menjadi kayu, tanah menjadi aset, dan laut menjadi ruang ekstraksi. Yang alpa dari kalkulasi ekonomi modern adalah hal-hal paling esensial: ingatan kolektif, kebudayaan, dan keterikatan batin masyarakat dengan alamnya.


Bagi masyarakat adat, hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan perpustakaan hidup yang menyimpan pengetahuan leluhur dan tata nilai. Ketika hutan hilang, yang lenyap bukan hanya kayu, melainkan sebuah ensiklopedia kebudayaan.


Alam Bukan Mesin ATM

Kita harus berhenti memperlakukan alam layaknya mesin penarik sumber daya. Ekonomi modern sangat mahir menghitung pertumbuhan, tetapi kerap gagap mengukur kehilangan.

Jika pertumbuhan ekonomi dibayar dengan deforestasi, pencemaran, dan bencana ekologis, apakah kita benar-benar sejahtera? Atau kita justru sedang memindahkan beban kemiskinan dan kerusakan kepada generasi mendatang?


Dari perspektif ekologi humaniora, manusia bukanlah entitas yang berdiri terpisah di luar alam. Kita adalah bagian dari ekosistem. Kita minum dari airnya, bernapas lewat udaranya, dan akan kembali menjadi tanah. Bukan manusia yang memiliki bumi, melainkan manusialah yang berada dalam kepemilikan bumi.


Rahim yang Diperlakukan Seperti Gudang


Nusantara bukan sekadar wilayah administratif—ia adalah rahim kehidupan. Dari rahim inilah peradaban dan identitas kebangsaan kita disemai. Kerusakan lingkungan, dengan demikian, bukan sekadar masalah teknis, melainkan krisis kebudayaan.


  • Sungai yang mati bukan hanya kehilangan air, tetapi kehilangan cerita.
  • Pesisir yang rusak bukan hanya kehilangan mangrove, tetapi kehilangan benteng pertahanan dan identitas nelayannya.


Kemerdekaan ekologis tidak boleh berhenti menjadi jargon pidato kenegaraan. Apa artinya kedaulatan jika rakyat tidak berdaulat atas ruang hidupnya? Apa artinya "Indonesia Raya" jika sebagian anak bangsa hidup cemas setiap kali hujan turun karena sungai tak lagi mampu menampung air?


Penjajahan Tanpa Seragam & Ketimpangan Antargenerasi


Penjajahan ekologis jarang hadir dalam bentuk kekerasan kasat mata. Ia bersembunyi di balik kata-kata manis: investasi, efisiensi, hilirisasi, dan pertumbuhan. Namun, alam bekerja dengan hukum yang pasti: setiap utang ekologis pada akhirnya akan ditagih.


Jika tidak dibayar hari ini, ia akan ditagih sepuluh tahun lagi dalam bentuk banjir, dua puluh tahun lagi dalam bentuk kekeruhan dan kekeringan, atau diwariskan kepada anak cucu kita dalam bentuk krisis air bersih.


Ini adalah bentuk ketimpangan demokrasi antargenerasi: generasi hari ini menikmati hasil eksploitasi, sementara generasi mendatang menanggung seluruh hukumannya. Padahal, udara bersih, air layak, dan laut yang sehat adalah hak mutlak mereka yang belum lahir.


Merah, Putih, dan Hijau Kehidupan

Peringatan kemerdekaan harus bergeser dari sekadar seremoni menuju tanggung jawab ekologis nyata. Kedaulatan ekologis harus diwujudkan dalam kebijakan publik:


  1. Perlindungan hak-hak masyarakat adat.
  2. Penataan ruang berkeadilan dan pemulihan ekosistem.
  3. Transisi energi bersih dan ekonomi sirkular.
  4. Pengelolaan sampah berbasis sumber dan budaya merawat.


Sudah saatnya kita menambahkan satu dimensi dalam imajinasi kebangsaan: Merah adalah keberanian, Putih adalah ketulusan, dan Hijau adalah keberlanjutan kehidupan. Tanpa warna hijau, merah putih hanya menjadi kain yang berkibar di atas ruang hidup yang meranggas.


Pada usia 81 tahun, Indonesia tidak hanya membutuhkan perayaan yang riuh, tetapi juga keberanian untuk mengoreksi arah pembangunan. Saat berdiri memberi hormat kepada Merah Putih di bulan Agustus ini, luangkan hormat kita kepada tanah, air, hutan, laut, serta generasi masa depan.


Sebab kemerdekaan yang sejati bukan hanya ketika kita berani berkata, "Kami tidak lagi dijajah," melainkan ketika bangsa ini mampu menegaskan:


"Kami tidak lagi menjajah alam kami sendiri."

 


×
Berita Terbaru Update