Notification

×

ini-klik.id


 


 

Tim UNM Latih Perempuan ’Aisyiyah Makassar Buat Batik Motif Pinisi dan Lontara

Sabtu | 10.10.26 | Last Updated 2026-10-10T01:40:37Z
    Share


INI-KLIK.ID  — Kekayaan budaya Bugis-Makassar menjadi inspirasi bagi anggota Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga PD ’Aisyiyah Kota Makassar dalam menghasilkan karya seni batik. Melalui pelatihan dan pendampingan dari tim pengabdian masyarakat Universitas Negeri Makassar (UNM), para peserta diajak mengembangkan motif perahu pinisi hingga aksara Lontara menjadi batik tulis bernilai estetika tinggi.


Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dipimpin oleh tim akademisi UNM yang terdiri atas Baetal Mukaddas, Andi Sahtiani Jahrir, Yati Bt. Samsuddin, dan Muhammad Zia Ulhaq. Program ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan perempuan dalam merancang motif dan menguasai teknik dasar membatik, sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya daerah.


Pelatihan ini berawal dari tingginya minat anggota komunitas terhadap seni kerajinan batik, meskipun sebagian besar peserta masih memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai filosofi motif, penyusunan desain, teknik pencantingan, hingga proses pewarnaan kain.


Guna mengantisipasi hal tersebut, tim penyuluh menyusun skema pembelajaran secara bertahap—dimulai dari pengenalan sejarah dan filosofi batik lokal, pembuatan sketsa, praktik mencanting, hingga proses pewarnaan dan penyelesaian karya (finishing).


Dalam sesi materi, peserta diperkenalkan pada beragam sumber inspirasi visual daerah, seperti aksara Lontara, perahu pinisi, rumah adat Bugis-Makassar, serta flora khas Sulawesi Selatan. Peserta kemudian merancang alternatif sketsa di atas kertas sebelum memindahkannya ke media kain mori.


Berdasarkan laporan kegiatan, mayoritas peserta memilih motif perahu pinisi dan karakter aksara Lontara sebagai pilihan utama. Tim pendamping turut membimbing peserta dalam mengatur proporsi bentuk, pengulangan pola, serta keseimbangan komposisi agar menghasilkan karakter visual yang rapi dan berkarakter kuat.


Tantangan sempat muncul saat praktik mencanting, di mana para peserta pemula sempat kesulitan mengendalikan aliran malam (lilin batik) sehingga garis kerap terputus atau menetes di luar pola. Namun, melalui latihan berulang dan evaluasi langsung, keterampilan peserta meningkat secara signifikan dalam mencanting garis lurus maupun lengkung.


Pada tahap akhir pewarnaan, peserta memadukan kombinasi warna sesuai kreativitas masing-masing, mulai dari perpaduan warna cerah hingga nuansa warna tanah (earth tone) yang lembut. Hasil dari pelatihan ini berupa kain batik tulis multifungsi yang dapat dimanfaatkan sebagai taplak meja maupun hiasan dinding.


Tak hanya mengasah keterampilan teknis, pelatihan ini turut memantik jiwa kewirausahaan para peserta. Beberapa anggota ’Aisyiyah menyatakan ketertarikannya untuk memproduksi batik khas Makassar dalam skala kecil sebagai cinderamata atau suvenir budaya lokal.


Sinergi antara UNM dan PD 'Aisyiyah Kota Makassar ini diharapkan mampu menghadirkan ruang belajar berkelanjutan yang menghubungkan kreativitas, peningkatan ekonomi warga, dan pelestarian warisan budaya daerah.

×
Berita Terbaru Update